Sabtu, 27 Julai 2013

JANGGUT DAN KELEBIHANNYA


 HUKUM MEMELIHARA JANGGUT
 


 


Rasulullah s.a.w menggalakkan semua Muslimin sekalian menyimpan janggut dengan ukuran lebih kurang segengam. Rasulullah s.a.w. bersabda, mafhumnya: 

“Hendaklah kamu membezakan diri daripada kaum musyrik, pendekkan misai yang meliputi bibir dan simpanlah janggut sampai lebat”. (Hadith Riwayat Muslim)

“Barang siapa yang mengikuti sunnahku, berarti dia cinta padaku, dan barang siapa yang cinta padaku, maka akan masuk surga bersamaku.”

“Janganlah kamu meniru (menyerupai) orang-orang Majusi (penyembah berhala) kerana mereka itu memotong (mencukur) janggut mereka dan memanjangkan (memelihara) misai (kumis) mereka.”
(Hadith Riwayat Muslim)

"Aku tinggalkan/wasiatkan sesuatu kepada kalian dua perkara dan untuk kamu semua memegang teguh keduanya yang mana kalian semua tidak akan tersesat yaitu Kitab Allah (Al Quran) dan Sunnah Nabinya" (hadis).
(Kitab Al Muwatha’ lil Imam Malik r.a)

 


Permasalahannya adalah bagi mereka (laki-laki) yang mempunyai janggut, tetapi mencukurnya. Inilah yang dijadikan khithab (objek yang diajak bicara) dari sabda Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dalam banyak haditsnya. Dan inilah yang dijadikan bahasan para ulama kita semenjak dahulu sampai dengan sekarang. Pembicaraan atau khilaf mengenai hukum memelihara janggot itu secara garis besar terangkum dalam 4 (empat) pendapat masyhur. Namun sebelumnya perlu ditekankan bahwa khilaf ini sebatas pada khilaf terhadap janggot yang panjangnya melebihi genggaman  tangan. Khilaf ini tidak mencakup perbuatan mencukur pendek-pendek atau mencukur habis janggot, sebab madzhab empat dan selainnya (Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Dhahiriyyah) telah sepakat tentang keharamannya.

Khilaf tersebut adalah sebagai berikut :
 
1. Tidak memotong janggot sama sekali dengan membiarkannya sebagaimana adanya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Asy-Syafi’i dalam satu nukilan (Al-’Iraqi), sebagian ulama Syafi’iyyah, sebagian ulama Hanabilah, dan beberapa ulama yang lainnya.
Pendapat ini berhujjah dengan keumuman hadits Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam :
 
خالفوا المشركين وفروا اللحى وأحفوا الشوارب
”Selisilah oleh kalian orang-orang musyrik, lebatkanlah jenggot dan potonglah kumis” [HR. Al-Bukhari no. 5553 dan Muslim no. 259].
 
أحفوا الشوارب وأعفوا اللحى
”Potonglah kumis kalian dan peliharalah jenggot” [HR. Muslim no. 259].
 
انهكوا الشوارب وأعفوا اللحى
”Potong sampai habis kumis kalian dan peliharalah jenggot” [HR. Al-Bukhari no. 5554].
 
جزوا الشوارب وأرخوا اللحى خالفوا المجوس
”Potong/cukurlah kumis kalian dan panjangkanlah jenggot. Selisilah oleh kalian kaum Majusi” [HR. Muslim no. 260].
 
إن أهل الشرك يعفون شواربهم ويحفون لحاهم فخالفوهم فاعفوا اللحى وأحفوا الشوارب
”Sesungguhnya orang musyrik itu membiarkan kumis mereka lebat. Maka selisihilah mereka ! Peliharalah jenggot dan potonglah kumis kalian” [HR. Al-Bazzar no. 8123; hasan].
 
عن بن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه أمر بإحفاء الشوارب وإعفاء اللحية
Dari Ibnu ’Umar, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Bahwasannya beliau memerintahkan untuk memotong kumis dan memelihara jenggot” [HR. Muslim no. 259].
 
Menurut kaidah ushul-fiqh, semua lafadh yang mengandung perintah menunjukkan makna wajib kecuali ada dalil yang memalingkannya.[3] Menurut mereka, tidak ada dalil shahih, sharih (jelas), lagi setara yang memalingkan dari kewajiban ini.
 
Ahmad bin Qaasim Al-’Abbaadi Asy-Syafi’i berkata :
 
قال ابن الرِّفْعة في حاشية الكفاية: إن الإمام الشافعي قد نصَّ في الأم على تحريم حلق اللحية ، وكذلك نصَّ الزَّرْكَشِيُّ والحُلَيْميُّ في شُعَب الإيمان وأستاذُه القَفَّالُ الشاشيُّ في محاسن الشريعة على تحريم حلق اللحية
”Telah berkata Ibnur-Rif’ah dalam kitab Haasyiyah Al-Kifaayah : ’Sesungguhnya Imam Asy-Syafi’i telah menegaskan dalam kitab Al-Umm tentang keharaman mencukur jenggot. Dan begitu pula yang ditegaskan oleh Az-Zarkasyi dan Al-Hulaimi dalam kitab Syu’abul-Iman, dan gurunya (yaitu) Al-Qaffaal Asy-Syaasyi dalam kitab Mahaasinusy-Syar’iyyah atas keharaman mencukur jenggot” [Hukmud-Diin fil-Lihyah wat-Tadkhiin oleh ’Ali Al-Halaby hal. 31].
 
An-Nawawi berkata :
والمختار تركها على حالها, وألا يتعرض لها بتقصير شيء أصلاً
”Pendapat yang terpilih adalah membiarkan jenggot sebagaimana adanya, dan tidak memendekkannya sama sekali” [Syarh Shahih Muslim 2/154].
 
Al-Hafidh Al-’Iraqi berkata :
واستدل الجمهور على أن الأولى ترك اللحية على حالها, وأن لا يقطع منها شيء, وهو قول الشافعي وأصحابه
”Jumhur ulama berkesimpulan pada pendapat pertama untuk membiarkan jenggot sebagaimana adanya, tidak memotongnya sedikitpun. Hal itu merupakan perkataan/pendapat Imam Asy-Syafi’i dan para shahabatnya” [Tharhut-Tatsrib 2/83].
 
Al-Qurthubi berkata :
لا يجوز حلقها ولا نتفها ولا قصها
”Tidak diperbolehkan untuk mencukur, mencabut, dan memangkas jenggot” [Tahriimu Halqil-Lihaa oleh ’Abdurrahman bin Qasim Al-’Ashimi Al-Hanbaly hal. 5].
 
As-Saffarini Al-Hanbaly berkata :
المعتمد في المذهب ، حُرمَةُ حَلْقِ اللحية
”Pendapat yang mu’tamad (resmi/dapat dipercaya) dalam Madzhab (Hanabilah) adalah diharamkannya mencukur jenggot” [Ghadzaaul-Albaab 1/376].
 
Abu Syaammah Al-Maqdisy Asy-Syafi’y berkata :
وقد حدث قوم يحلقون لحاهم وهو أشد مما نقل عن المجوس أنهم كانوا يقصونها
”Telah ada suatu kaum yang biasa mencukur jenggotnya (sampai habis). Hal itu lebih parah dari apa yang ternukil dari orang Majusi dimana mereka hanya memotongnya saja (tidak sampai habis)” [Fathul-Bari 10/351 no. 5553].
 
2. Membiarkan jenggot sebagaimana adanya, kecuali dalam ibadah haji dan ’umrah dimana diperbolehkan memotong apa-apa yang berada di bawah genggaman tangan dari panjang jenggotnya. Pendapat ini merupakan pendapat yang dipegang oleh mayoritas tabi’in, Asy-Syafi’i, (hal yang disukai) oleh Malik, dan ulama yang lainnya. Pendapat ini dibangun dengan dalil yang disampaikan oleh pendapat pertama yang kemudian ditaqyid dengan atsar Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma :
 
عن نافع عن بن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال خالفوا المشركين وفروا اللحى وأحفوا الشوارب وكان بن عمر إذا حج أو اعتمر قبض على لحيته فما فضل أخذه
Dari Nafi’, dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam, beliau bersabda : ”Selisilah oleh kalian orang-orang musyrik, lebatkanlah jenggot dan potonglah kumis”. (Nafi’ berkata : ) ”Adalah Ibnu ’Umar, jika ia menunaikan ibadah haji atau ’umrah, maka ia menggenggam jenggotnya. Maka apa-apa yang melebihi dari genggaman tersebut, ia potong” [HR. Bukhari no. 5553 dan Muslim no. 259].
 
عن نافع أن عبد الله بن عمر كان إذا أفطر من رمضان وهو يريد الحج لم يأخذ من رأسه ولا من لحيته شيئا حتى يحج
Dari Nafi’ : Bahwasanya Abdullah bin ’Umar radliyallaahu ’anhuma apabila datang bulan Ramadlan, dan ia ingin melakukan ibadah haji, maka ia tidak memotong rambut kepalanya dan jenggotnya sedikitpun hingga ia benar-benar melaksanakan haji” [HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ Kitaabun-Nikaah 1/396, dan darinya Asy-Syafi’i meriwayatkan dalam Al-Umm 7/253].
 
عن مروان يعني بن سالم المقفع قال رأيت بن عمر يقبض على لحيته فيقطع ما زاد على الكف
Dari Marwan – yaitu Ibnu Saalim Al-Muqaffa’ – ia berkata : ”Aku pernah melihat Ibnu ’Umar menggenggam jenggotnya, lalu ia memotong apa-apa yang melebihi telapak tangannya” [HR. Abu Dawud no. 2357; hasan].
 
’Atha’ bin Abi Rabbah juga telah menceritakan/menghikayatkan dari sekelompok shahabat (dan tabi’in) dimana ia berkata :
 
كانوا يحبون أن يعفوا اللحية إلا في حج أو عمر.
”Mereka (para shahabat dan tabi’in) menyukai untuk memelihara jenggot, kecuali saat haji dan ’umrah (dimana mereka memotongnya apa-apa di bawah genggaman tangan)” [HR. Ibnu Abi Syaibah 5/25482 dengan sanad shahih] [4].
 
Madzhab Imam Malik adalah sebagaimana tertera dalam Al-Muwaththa’ dimana beliau membawakan riwayat Ibnu ’Umar yang membolehkan memotong jenggot yang melebihi genggaman tangan di waktu haji dan ’umrah [Al-Muwaththa’ 1/318]. Imam Malik tidak memberikan kelongaran dalam memotong jenggot kecuali saat haji dan ’umrah [Ikhtilaaful-Imam Malik wasy-Syafi’i 7/253]. Beliau hanya menyukainya saja dan tidak mewajibkannya [Al-Mudawwanah 2/430].
 
Ar-Rabi’ bin Sulaiman bin ’Abdil-Jabbar bin Kamil (salah seorang murid besar dari Imam Asy-Syafi’i) meriwayatkan bahwa Imam Asy-Syafi’i membolehkan memotong jenggot yang panjangnya melebihi satu genggam berdasarkan riwayat Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma. Ar-Rabi’ berkata :
 
قال الشافعي: وأخبرنا مالك عن نافع أن ابن عمر كان إذا حلق في حج أو عمرة أخذ من لحيته وشاربه.
[قال الربيع]: قلت: فإنا نقول( ) : ليس على أحد الأخذ من لحيته وشاربه، إنما النسك في الرأس؟
قال الشافعي: وهذا مما تركتم عليه بغير رواية عن غيره عندكم علمتها.
”Telah berkata Asy-Syafi’i : Telah mengkhabarkan kepada kami Malik (bin Anas) dari Nafi’ : Bahwasannya Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma apabila mencukur (rambut) ketika ibadah haji, maka beliau memotong jenggotnya (selebih dari genggaman tangan) dan kumisnya”. Aku (yaitu Ar-Rabi’) berkata : ”Sesungguhnya kami berkata : Tidak boleh bagi seorangpun untuk memotong jenggot dan kumisnya. Bukankah dalam ibadah haji hanya disyari’atkan mencukur kepala saja ?”. Maka Asy-Syafi’i berkata : ”Ini termasuk hal yang kalian tinggalkan atasnya tanpa dasar riwayat dari selainnya di sisi kalian yang aku ketahui” [Ikhtilaaful-Imam Malik wasy-Syafi’i 7/253]. Di sini Imam Asy-Syafi’i memegang atsar Ibnu ’Umar dalam hal tersebut.
 
Dalam kitab lain Imam Asy-Syafi’i berkata :
وأحب إلي لو أخذ من لحيته وشاربه، حتى يضع من شعره شيئاً لله، وإن لم يفعل فلا شيء عليه، لأن النسك إنما هو في الرأس لا في اللحية.
”Aku menyukai jika ia memotong jenggot dan kumisnya, hingga ia meletakkan dari rambutnya sesuatu karena Allah. Jika ia tidak melakukannya, maka tidak apa-apa baginya, karena dalam ibadah haji yang wajib hanyalah (memotong) rambut kepala, tidak pada jenggot” [Al-Umm 2/2032].
 
3. Diperbolehkan memotong jenggot yang terlalu panjang (yang melebihi batas genggaman tangan) sehingga membuat jelek penampilannya. Pendapat ini merupakan pendapat masyhur dari Malik bin Anas dan Qadli ’Iyadl.
 
Perkataan Imam Malik tentang bolehnya memotong jenggot karena panjangnya sehingga nampak padanya aib adalah sebagaimana terdapat dalam At-Tamhid karya Ibnu ’Abdil-Barr (24/145) dan Al-Muntaqaa karya Al-Baaji (3/32). [5]
 
Telah berkata Al-Qadli ’Iyadl ;
يكره حلق اللحية وقصها وتحذيفها وأما الأخذ من طولها وعرضها إذا عظمت فحسن بل تكره الشهرة في تعظيمها كما يكره في تقصيرها
”Mencukur, memangkas, dan mencabut jenggot adalah dibenci. Adapun jika ia memotong karena terlalu panjang dan (menjaga) kehormatannya jika ia membiarkannya (sehingga nampak jelek), maka itu adalah baik. Akan tetapi dibenci untuk membiarkan selama sebulan[6] sebagaimana dibenci untuk memendekkannya” [Fathul-Baari 10/351 no. 5553].
 
4. Disukai untuk memotong jenggot yang melebihi satu genggam secara mutlak, tidak dibatasi oleh waktu haji dan ’umrah. Pendapat ini merupakan pendapat masyhur dari kalangan Hanafiyyah, Imam Ahmad dan sebagian ulama Hanabilah, serta sebagian tabi’in.
Telah berkata Muhammad bin Al-Hasan – shahabat besar Abu Hanifah – rahimahumallah :
 
أخبرنا أبو حنيفة عن الهيثم عن ابن عمر -رضي الله عنهما-: أنه كان يقبض على لحيته ثم يقص ما تحت القبضة. قال محمد: وبه نأخذ، وهو قول أبي حنيفة.
”Telah mengkhabarkan kepadaku Abu Hanifah, dari Al-Haitsam, dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma : Bahwasannya ia (Ibnu ’Umar) menggenggam jenggotnya, kemudian memotong apa-apa yang berada di bawah genggaman tersebut”. Berkata Muhammad (bin Al-Hasan) : Kami mengambil pendapat tersebut. Dan itulah perkataan Abu Hanifah” [Al-Aatsaar 900].
Ibnu ’Abidin Al-Hanafy berkata :
 
ويحرم على الرجل قطع لحيته ـ أي حلقها, وصرح في النهاية بوجوب قطع ما زاد على القبضة, وأما الأخذ منها وهي دون ذلك كما يفعله بعض المغاربة ومخنثة الرجال, فلم يبحه أحد, وأخذ كلها فعل يهود الهند, ومجوس الأعاجم
”Dan diharamkan bagi seorang laki-laki memotong jenggotnya – yaitu mencukurnya. Dan telah dijelaskan dalam An-Nihayah atas wajibnya memotong apa-apa yang melebihi genggaman tangan. Adapun mengambil kurang dari itu (yaitu memotong jenggot yang belum melebihi satu genggaman tangan) - sebagaimana yang dilakukan sebagian orang-orang Maghrib , maka tidak seorang pun ulama yang membolehkannya. Dan memotong seluruh jenggot merupakan perbuatan orang-orang Yahudi Hindustan dan orang-orang Majusi A’jaam (non-Arab)” [Raddul-Mukhtaar 2/418].
 
Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal adalah membolehkan memotong/mencukur jenggot selebih genggaman tangan, namun tidak boleh kurang dari itu. Telah berkata Al-Khalaal : Telah mengkhabarkan kepadaku Harb, ia berkata : Ahmad (bin Hanbal) pernah ditanya tentang memotong jenggot. Maka beliau menjawab : ”Sesungguhnya Ibnu ’Umar memotongnya, yaitu rambut jenggot yang melebihi genggaman tangannya”. (Harb berkata) : ”Seakan-akan beliau berpendapat dengan perbuatan Ibnu ’Umar tersebut”. Aku (Harb) bertanya kepada beliau : ”Apa hukumnya memelihara (jenggot) ?”. Beliau berkata : ”Telah diriwayatkan dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam (tentang perintah tersebut)”. Harb berkata : ”Seakan-akan beliau berpendapat tentang wajibnya memelihara jenggot (yaitu tidak boleh memotongnya sama sekali)”. Selanjutnya Al-Khalaal berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Muhammad bin Harun, bahwasannya Ishaq (bin Haani’) telah menceritakan kepada mereka, bahwa ia berkata : ”Aku bertanya kepada Ahmad (bin Hanbal) tentang seorang laki-laki yang memotong rambut yang tumbuh di kedua pipinya”. Maka beliau menjawab : ”Hendaknya ia memotong jenggotnya yang panjangnya melebihi genggaman tangan”. Aku (Ishaaq) berkata : ”Bagaimana dengan hadits Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam : Potonglah kumis dan peliharalah jenggot ?”. Maka beliau menjawab : ”Hendaknya ia memotong karena panjang jenggotnya (yang melebihi genggaman tangan), dan (rambut yang tumbuh) di bawah tenggorokannya”. (Ishaq berkata) : Aku melihat Abu ’Abdillah (Ahmad bin Hanbal) memotong panjang jenggotnya (yang melebihi genggaman tangan) dan (rambut yang tumbuh) di bawah tenggorokannya” [Kitab At-Tarajjul min Kitaabil-Jaami’ hal. 113-114].

Tarjih : Pendapat yang paling kuat menurut kami adalah pendapat kedua yang membolehkan memotong jenggot jika telah melebihi genggaman tangan pada waktu haji dan ’umrah. Atsar Ibnu ’Umar merupakan pentaqyid yang sangat jelas, yaitu berkaitan dengan waktu dan batasan panjang yang diperbolehkan [7]. Taqyid ini merupakan ijma’ (yaitu jenis ijma’ sukuti) yang terjadi di kalangan shahabat tanpa ternukil adanya pengingkaran. Dan sangat mungkin ini juga merupakan ijma’ yang terjadi di kalangan tabi’in. Apalagi diperkuat oleh atsar shahih dari ’Atha’ dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.
Wajib hukumnya memelihara (membiarkan) jenggot menurut nash yang jelas dari As-Sunnah, dan haram hukumnya memotong lebih pendek dari genggaman tangan atau bahkan mencukur habis keseluruhan jenggot. Namun jika memang sudah terlalu panjang sehingga memperburuk penampilan, diperbolehkan untuk memotongnya dengan batasan yang telah ditentukan syari’at (tidak boleh lebih pendek dari satu genggam).
 
Di sini mungkin perlu kami ingatkan tentang ucapan Ibnu Hazm :
 
واتفقوا أن حلق جميع اللحية مثلة لا تجوز
”Para ulama sepakat (ijma’) bahwa mencukur seluruh jenggot adalah tidak diperbolehkan (haram)” [Maraatibul-Ijmaa’ hal 157].
 
Hal tersebut sebagaimana juga dikatakan oleh Abul-Hasan bin Qaththaan Al-Maliki dalam kitab Al-Iqnaa’ fii Masaailil-Ijmaa’ 2/3953.
 
Sebagai seorang muslim, menjadi keharusan untuk mematuhi perintah Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dan mencontoh sifat-sifat yang ada padanya [8].
Mudlarat dari Memotong/Mencukur Jenggot
 
1. Menyelisihi perkara-perkara Nubuwwah yang datang dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam – yang tiadalah yang diucapkan beliau itu menurut kemauan hawa nafsunya – untuk memelihara jenggot.

Allah ta’ala telah berfirman :
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” [QS. An-Nuur : 63].
 
2. Penyelisihi perkataan-perkataan ahlul-’ilmi (ulama) – para pewaris Nabi – yang kita diperintahkan untuk mentaatinya, sebagaimana firman Allah ta’ala :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” [QS. An-Nisaa’ : 59].
 
3. Menyelisihi petunjuk para nabi dan rasul dalam hal yang umum, dimana sunnah-sunnah mereka semuanya adalah memelihara jenggot. Allah ta’ala telah berfirman :
أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُل لاَّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ
”Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat” [QS. Al-An’aam : 90].
 
4. Menyelisihi petunjuk nabi kita Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam dalam hal yang khusus, karena Allah telah memerintahkan kita untuk ber-ittiba’ kepada beliau :
َومَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
”Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya” [QS. Al-Hasyr : 7].
 
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” [QS. Al-Ahzaab : 21].
 
5. Menyelisihi petunjuk para pendahulu kita yang shalih (salafunash-shaalih) dari kalangan shahabat dan para tabi’in radliyallaahu ’anhum ajma’in dimana tidak diketahui satupun di antara mereka yang mencukur (pendek-pendek/habis) jenggotnya. Mereka adalah para imam kita dalam petunjuk, contoh kita dalam kebaikan, dan bintang-bintang kita yang menerangi dalam kegelapan. Mereka adalah kaum yang tidak akan mencelakan orang yang mengikutinya dengan idzin Allah.
 
6. Menyelisihi sunnah-sunnah fithrah yang telah Allah tetapkan pada manusia. Allah berfirman :
فطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ
”(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah” [QS. Ar-Ruum : 30].
 
7. Merubah ciptaan Allah tabaraka wata’ala, padahal semua ciptaan Allah adalah baik. [9]
 
8. Menyerupai orang-orang musyrikin, Yahudi, dan penyembah berhala. Padahal Allah telah memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka.
 
9. Menyerupai wanita. Allah telah berfirman :
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأُنثَى
”Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan” [QS. Ali-’Imran : 36].
 
10. Mengingkari karunia nikmat (jenggot) ini, dimana telah Allah muliakan laki-laki dengannya.
 
11. Dan yang lain-lain.
 
Peringatan :
 
1. Atsar Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin rahimahumallah :
 
وكيع عن أبي هلال قال : سألت الحسن وابن سيرين فقالا : لا بأس به أن تأخذ من طول لحيتك.
Dari Waki’, dari Abu Hilal ia berkata : Aku bertanya kepada Al-Hasan (Al-Bashri) dan Ibnu Sirin (tentang hukum memotong jenggot), maka mereka menjawab : “Tidak mengapa untuk mengambil/memotong dari panjang jenggotmu” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 5/226].
Atsar ini adalah dla’if karena kebersendirian Abu Hilaal Ar-Raasiby. Ia adalah seorang rawi yang diperbincangkan yang seseorang tidak boleh berhujjah dengannya jika bersendirian dalam meriwayatkan hadits.
Ibnu Hajar berkata : Ia seorang yang shaduq, tapi layyin (lemah haditsnya)” [At-Taqrib no. 5923].
Adz-Dzahabi berkata : ”Abu Dawud mentsiqahkannya; Abu Hatim berkata : Tempatnya kejujuran; tapi tidak kokoh; An-Nasa’i berkata : Tidak kuat (laisa bil-qawiy); Ibnu Ma’in : Shaduq, dituduh sebagai Qadariyyah; Al-Fallaas berkata : Yahya bin Sa’id tidak meriwayatkan hadits dari Abu Hilal, namun Abdurrahman meriwayatkan darinya” [Mizaanul-I’tidaal no. 7646]. Imam Bukhari memasukkannya sebagai perawi dla’if dalam kitab Adl-Dlu’afaa Ash-Shaghiir (no. 324).
 
2. Atsar Thawus bin Kaisan rahimahullah :
 
أبو خالد عن ابن جريج عن ابن طاوس عن أبيه أنه كان يأخذ من لحيته ولا يوجبه.
Dari Abu Khalid, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Thawus, dari bapaknya (Thawus) : ”Bahwasannya ia (Thawus) memotong jenggotnya namun tidak mewajibkannya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 5/226].
 
Atsar ini dla’if karena kebersendirian Ibnu Juraij. Ia adalah seorang mudallis yang jelek (qabiih) tadlisnya. Ia meriwayatkan secara ’an’anah dan tidak disebutkan dalam riwayat tersebut tentang penegasan sima’-nya.
 
3. Pada beberapa sumber sering dinukil perkataan yang dinisbatkan pada Ibnu ’Abdil-Barr dalam kitab At-Tamhiid :
 
ويحرم حلق اللحية ، ولا يفعله إلا المخنثون من الرجال
”Diharamkan mencukur jenggot. Tidak ada yang melakukannya kecuali dari kalangan laki-laki banci” [selesai].
 
Maka ini bukanlah perkataan Ibnu ’Abdil-Barr. Tidak terdapat dalam kitabnya, baik dalam At-Tamhiid ataupun Al-Istidzkaar. Namun anehnya perkataan ini termuat dan ternukil oleh sebagaian ulama besar kita yang kemudian dinisbatkan sebagaimana di atas.
Semoga apa yang saya tulis di sini dapat bermanfaat bagi ilmu dan amal kita. Amien............. Wallaahu a’lam bish-shawwab.
 
Abul-Jauzaa’ – lewat tengah malam, Jumadil-Ula 1429 [edited 1430 H].
[1] Jenggot dalam bahasa Arab disebut Al-Lihyah (اَللِّحْيَةُ). Al-Fairuz Abadi berkata tentang definisi dari Al-Lihyah : {شعْرُ الخدَّيْن و الذَّقنِ} ”rambut (yang tumbuh) di kedua pipi dan dagu” [Al-Qamus Al-Muhith 4/387]. Hal yang sama dinukil dari Ibnu Mandhur dalam Lisaanul-’Arab : { اسم يجمع من الشعر ما نبت على الخدّين والذقَن } ”nama bagi semua rambut yang tumbuh pada kedua pipi dan dagu”.
 
[2] Sebagaimana disarikan oleh Abu Ahmad Al-Hadzaly dalam Multaqaa Ahlil-Hadits yang diambil dari kitab I’faaul-Lihyah hal. 29-30, Fathul-Baari 10/350, dan Juzzul-Masaalik 15/6.
 
[3] Dalam pembahasan Ushul Fiqh, para ulama telah menjelaskan :
 
صيغة الأمر عند الإطلاق تقتضي: وجوب المأمور به، والمبادرة بفعله فوراً.
“Bentuk perintah secara mutlak/ umum memberi konsekuensi: wajibnya sesuatu yang diperintahkan dan bersegera dalam melakukannya secara langsung”.
 
Di antara dalil yang digunakan para ulama untuk membangun kaidah ini antara lain :
 
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيم
”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih" [QS. An-Nuur : 63]. [lihat Al-Ushul min ‘Ilmil-Ushul oleh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah].
 
[4] ’Atha’ telah memutlakkan perbuatan dari para shahabat dan tabi’in untuk memotong jenggot ketika haji dan ’umrah. Sifat kemutlakan lafadh ’Atha’ ini dalam memotong jenggot ini dijelaskan oleh perbuatan Ibnu ’Umar dalam haji dan ’umrah bahwa yang dipotong itu adalah selebih dari genggaman tangan. ’Atha’ adalah salah satu murid Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma. Apa yang diriwayatkan oleh ’Atha’ ini sekaligus menafsiri apa yang diriwayatkan oleh ulama dari kalangan tabi’in lain yaitu Al-Qaasim bin Muhammad.
 
عن أفلح قال: كان القاسم إذا حلق رأسه أخذ من لحيته وشاربه
Dari Aflah ia berkata : ”Adalah Al-Qaasim jika ia mencukur kepalanya (waktu haji atau ’umrah), maka ia pun memotong jenggot dan kumisnya” [HR. Ibnu Abi Syaibah 5/225; shahih].
Al-Qaasim mencukur jenggotnya di waktu haji dan ’umrah adalah selebih dari genggaman tangan sebagaimana dilakukan oleh pembesar shahabat dan tabi’in lainnya.
 
[5] Dinukil melalui perantaraan risalah Asy-Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Asmary yang berjudul : Hukmul-Akhdzi minal-Lihyah yang dipublikasikan dalam www.saaid.net; sebagaimana juga ternukil dalam pembahasan Multaqaa Ahlil-Hadiits (berjudul : هل يوجد قول معتبر يجوز الأخذ من اللحية ما دون القبضة ؟؟).
 
[6] Perkataan Al-Qadli ‘Iyadl tentang dibencinya membiarkan jenggot selama satu bulan jangan diartikan boleh mencukur selama satu bulan secara mutlak (sebagaimana dijadikan hujjah sebagian orang muta’akhkhirin). Maksud perkataan beliau adalah bahwa beliau membenci jenggot dibiarkan selama satu bulan jika telah melebihi satu genggaman tangan jika membuat jeleknya penampilan. Beliau berkata dalam Syarah Shahih Muslim sebagai berikut :
 
يُكْرَه حَلْقهَا وَقَصّهَا وَتَحْرِيقهَا , وَأَمَّا الْأَخْذ مِنْ طُولهَا وَعَرْضهَا فَحَسَن , وَتُكْرَه الشُّهْرَة فِي تَعْظِيمهَا كَمَا تُكْرَه فِي قَصِّهَا وَجَزّهَا . قَالَ : وَقَدْ اِخْتَلَفَ السَّلَف هَلْ لِذَلِكَ حَدّ ؟ فَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ يُحَدِّد شَيْئًا فِي ذَلِكَ إِلَّا أَنَّهُ لَا يَتْرُكهَا لِحَدّ الشُّهْرَة وَيَأْخُذ مِنْهَا , وَكَرِهَ مَالِك طُولهَا جِدًّا , وَمِنْهُمْ مَنْ حَدَّدَ بِمَا زَادَ عَلَى الْقَبْضَة فَيُزَال , وَمِنْهُمْ مَنْ كَرِهَ الْأَخْذ مِنْهَا إِلَّا فِي حَجّ أَوْ عَمْرَة
”Dimakruhkan untuk mencukur, memotong, dan membakar jenggot. Adapun memotong karena saking panjangnya dan (menjaga) kehormatannya (yang jika dibiarkan nampak jelek/keji), maka hal itu baik. Dan dimakruhkan membiarkannya selama sebulan sebagaimana dimakruhkan untuk memotong dan mencukurnya. Dan para ulama salaf telah berbeda pendapat, apakah dalam hal ini terdapat batasan ? Diantara mereka ada yang tidak memberikan batasan apapun, namun mereka tidak membiarkannya terus memanjang selama satu bulan, dan segera memotongnya bila telah mencapai satu bulan. Dan Malik membenci/memakruhkan jika jenggot tersebut terlalu panjang. Di antara mereka (ulama) ada yang memberi batasan, apa-apa yang melebihi genggaman tangan maka boleh dihilangkan/dipotong. Dan di antara mereka ada pula yang membenci memotongnya kecuali saat haji dan ’umrah” [selesai].
 
Di sini jelas bahwa Al-Qadli ’Iyadl tidak memperbolehkan memotong jenggot yang panjangnya kurang dari genggaman tangan, sebab yang menjadi sebab adalah terlalu panjang sehingga memperburuk penampilan. Wallaahu a’lam.
 
[7] Jika ada dalil muthlaq dan muqayyad tentang satu hal yang mempunyai kesamaan sebab dan hukum, maka dalil muthlaq harus dibawa kepada dalil muqayyad (hamlul-muthlaq ‘alal-muqayyad wajibun) [silakan lihat kaidah ini dalam kitab Irsyaadul-Fuhuul oleh Imam Asy-Syaukani hal. 213-214; Maktabah Sahab].
 
[8] Dan Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam adalah orang yang memelihara jenggotnya, sebagaimana yang diceritakan oleh Anas bin Malik tentang jenggot beliau :
 
ما عددت في رأس رسول الله صلى الله عليه وسلم ولحيته إلا أربع عشرة شعرة بيضاء
”Tidaklah aku menghitung sesuatu di kepala dan jenggot Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam melainkan aku dapatkan sebanyak empatbelas buah uban [HR. Tirmidzi dalam Mukhtashar Asy-Syamaail no. 31; shahih].
 
[9] Waliyullah Ad-Dahlawi berkata :
وقصها ـ أي اللحية ـ سنة المجوس, وفيه تغيير خلق الله
”Mencukurnya – yaitu mencukur jenggot – merupakan sunnah kaum Majusi. Hal itu terdapat perbuatan merubah ciptaan Allah” [Al-Hujjatul-Baalighah 1/182].
 
 
 
"SESUNGGUHNYA DALAM (MENGAMALKAN) SUNNAH ADA KEJAYAAN"

Khamis, 25 Julai 2013

BERIBADAH SEMASA TIDUR

BERIBADAH SEMASA TIDUR

Semoga Tidur kita juga menjadi Ibadat...


Semua manusia memerlukan tidur. Dengan tidur manusia dapat berehat. Dengan berehat manusia dapat hidup dengan lebih sihat dan cerdas. Dengan tidur manusia dapat beribadat kepada Allah dengan lebih khusyuk lagi.. TAPI INGAT! JANGAN SAMPAI TERLEBIH TIDUR..

       Antara hadis yang menerangkan tentang adab tidur Rasulullah adalah dari riwayat Bukhari dan Muslim bermaksud: 

“Jika kamu akan tidur maka berwudhuklah bagaikan kamu hendak solat, kemudian berbaring atas pinggang kanan dan bacalah doa ini (doa hendak tidur) dan jadikanlah bacaan doa itu yang terakhir daripada bacaanmu (perkataanmu).”
Hadis riwayat Hudzaifah pula: 
“Apabila Rasulullah SAW berbaring di atas tempat tidurnya, maka Baginda berdoa: “Allahumma bismika amuutu wa ahyaa (Ya Allah, dengan Asma-Mu aku mati dan aku hidup).” 
Dan jika bangun dari tidurnya beliau berdoa: 
“Alhamdu lillaahill adzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilayhin-nu syuur (Segala puji bagi Allah, yang telah menghidup kan aku kembali setelah mematikan aku, dan kepada- Nya tempat kembali).” (HR. At-Tirmidzi). 




Sebuah hadis menerangkan: Al-Barra’ bin Azib berkata: “Adalah Rasulullah SAW jika akan tidur, mengiring ke sebelah kanan kemudian Baginda membaca (yang bermaksud):
 “Ya Allah aku serahkan diriku kepadaMu dan menghadapkan mukaku kepadaMu dan menyerahkan segala urusanku kepadaMu dan menyandarkan belakangku kepada-Mu kerana mengharap dan takut kepadaMu, tiada perlindungan dan tiada tempat yang selamat daripada seksaanMu melainkan kembali kepadaMu. Aku beriman kepada kitab yang Kau turunkan dan Nabi yang telah Kau utus.” 
– (Hadis riwayat Bukhari).

Dalam riwayat yang berasingan yang turut diriwayatkan oleh Al-Bara’ bin ‘Azib, beliau berkata:
 “Sesungguhnya Nabi SAW apabila berbaring di tempat tidurnya, baginda akan meletakkan telapak tangan kanannya di bawah pipi kanannya, 
lalu berdoa: 
“Rabbi qinii ‘adzaabaka yawma tab’atsu ‘ibaadaka (Ya Tu hanku, peliharalah aku dari azab-Mu pada hari Kau bangkitkan seluruh hamba-Mu).” – 
(HR. At-Tirmidzi).

Menurut Ummul Mukminin Aisyah r.a. berkata:
 “Apabila Rasulullah SAW berbaring di tempat tidurnya, Baginda akan menghimpunkan kedua-dua telapak tangannya, lalu meniup kedua-duanya dan dibaca pada kedua-duanya surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas. Kemudian disapunya seluruh badan yang dapat disapunya dengan kedua-dua tangannya. Baginda memulakan dari kepalanya, mukanya dan bahagian depan badannya. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali.” – 
(HR. At- Tirmidzi , lihat Kitab Sya mail Muhammad cetakan Telaga Biru, halaman 167-168).

Walau bagaimanapun, kita juga disunnahkan tidur secara telentang seperti yang terdapat dalam hadis yang sahih di mana Rasulullah  tidur secara terlentang dengan meletakkan satu kaki di atas yang lain sebagai mana maksud hadis: 
“Daripada ‘Abbad bin Tamim, daripada bapa saudaranya, bahawasanya Rasulullah SAW tidur terlentang di masjid sambil meletakkan satu kaki di atas yang lain.” 
– (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

Berkaitan dengan tidur telungkup atau meniarap pula ada sebuah hadis yang merujuk kepada tegahan Nabi SAW. Hadis ini bermaksud :
 “Tidak dibenarkan telungkup dengan posisi perut sebagai tumpuannya sama ada ketika tidur malam atau pun tidur siang. “Sesungguhnya (posisi tidur telungkup) seperti itu adalah posisi tidur yang dimurkai Allah Azza Wa Jalla.”
(HR. Abu Daud dengan sanad yang sahih).

Menurut Ab Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada dalam Kitab Ensiklopedia Adab Islam, antara adab tidur yang menjadi amalan Nabi SAW dan salafussoleh ialah:





  1. Berniat ikhlas agar tidur tersebut dapat memberi kekuatan untuk beramal apabila bangun kelak.
  2. Tidur di tempat yang tertutup.
  3. Elakkan tidur sewaktu kekenyangan.
  4. Tidur dalam keadaan suci.
  5. Tidur dalam keadaan berwuduk.
  6. Membaca surah dan ayat yang menjadi amalan Nabi SAW sebelum tidur(seperti "3 Qul").
  7. Bercelak dengan celak. Ini berdasarkan hadis yang yang bermaksud: Hendaklah kamu tidur dengan bercelak kerana ia dapat mencerahkan pandangan dan melebatkan bulu mata. – (Riwayat al-Tirmizi, Ibn Majah dan al- Hakim).
  8. Mengerjakan solat sunat seperti witir sebelum tidur. Ini adalah berpandukan ke pada hadis riwayat Ahmad yang bermaksud: “Orang yang tidak tidur sehingga dia mengerjakan solat witir adalah orang yang bertekad kuat."
  9. Mengibas tempat pembaringan dengan hujung kain dan mengucapkan Bismillah seperti riwayat al-Tir mizi.
  10. Bersiwak atau berus gigi ketika bangun pada malam hari seperti yang diriwayatkan dari Ibn Adiy.
  11. Membaca doa sebelum tidur..

Rabu, 24 Julai 2013

Arnab Mandul ? - Mengapa Arnab Susah Beranak dan Malas Mengawan

Arnab Mandul ?

Mengapa Arnab Susah Beranak dan Malas Mengawan



Salam kepada semua pencinta arnab seMalaysia...

Mungkin salah sorang dari kowang yang bela arnab pernah melalui situasi dimana arnab kowang malas mengawan...maksudnya si betina x mau mengawan walaupun telah di cuba berkali kali dengan jantan hensem lagi ganteng yg berbeza.

Macam2 dah di cuba...tuka pelet mahal..guna pelet power...bagi makan daun ginseng jawa...bagi tongkat ali cafe ais tabur dan mcm2 lagilah tapi still x menjadik. Sudahnya kowang giveup..jual kat org lain beli arnab baru...atau kalau lebih sadis, sembelih..makan TITIK.Hahahahahahahaa..
ARNAB YANG SIHAT MEMPUNYAI SIMPANAN LEMAK YANG SEDIKIT

Sabar...sabar...nanti dulu...mungkin ada sesuatu yang tak kene tentang diet arnab anda. Kebiasaannya arnab adalah subur sepanjang masa. Bermaksud arnab sedia mengawan pada bila2 masa sahaja. Jika sebaliknya berlaku, kena la periksa baik yang jantan atau yang betina.

Jantan :
Sangat subur bila mempunyai telur yang besar dan tegang serta berwarna kemerah2an.

Betina :
Sangat subur bila kemaluan kemerah-merahan dan sedikit basah/berlendir


Arnab akan menjadi kurang subur apabila terlalu banyak lemak terkumpul disekeliling salur peranakkan. Semasa mengawan "penetration" mungkin berlaku tetapi benih tidak sampai kepada telur betina untuk disenyawakan. Akibatnya arnab betina anda sangat susah bunting dan ada yang memanggilnya mandul. Lemak yang terlalu tebal juga akan menyukarkan siibu semasa proses melahirkan yang menyebabkan arnab tersangkut dan boleh membahayakan nyawa arnab tersebut.
OVERWEIGHT
Keadaan ini berlaku mungkin disebabkan cara diet yang salah. Arnab yang sentiasa terkurung dan diberi makan secara berlebihan adalah lebih mudah terdedah kepada risiko ini berbanding arnab yang lepas bebas. Pemberian pelet yang kurang sesuai seperti pelet yang mengandungi kadar protien yang terlalu tinggi juga adalah tidak elok.

Bagi memastikan arnab anda kekal sihat, sebaiknya gunakanlah pelet yang sesuai dengan diet mereka ( arnab pedaging dan arnab hias mempunyai jenis pelet yang berbeza ).
HAY - TIMOTHY
Pemberian hay terutamanya timothy hay, orchard grass hay dan lain2 rumput adalah sagat baik untuk mengekalkan kesihatan arnab anda kerana kadar fiber yang tinggi didalamnya, sebaliknya Alfalfa Hay mempunyai kadar protien yang tinggi dan hanya sesuai diberi kepada ibu2 arnab yang menyusukan anak2nya.
LEMAK YANG TERLALU BANYAK AKAN MENYUKARKAN PROSES MENGAWAN, KEHAMILAN DAN KELAHIRAN

Walaubagaimanapun ini hanyalah pengalaman penulis sahaja. Arnab anda, Hak anda....

Fikir-fikirkan dan Selamat Beramal

MAJULAH ARNAB UNTUK SEMUA

Jumaat, 12 Julai 2013

Kadar Pemberian Makanan Kepada Arnab




Apakah diet asas bagi sekor arnab..?

Diet arnab sepatutnya dari pellet yang baik, fresh hay    ( timothy hay atau lain-lain grass hay seperti orchard grass atau Bermuda grass ), air bersih bertapis dan sayuran segar yang bebas dari racun makhluk perosak dari jenis tidak berair. Selain dari ini hanyalah makanan sampingan dan diberi dalam kuantiti yang sedikit sahaja.


Apakah pellet yang baik ?

Pelet yang baik adalah pellet segar yang memang dikhususkan untuk arnab mengandungi sekurang-
kurangnya 18 % fiber. Tidak di galakkan membeli pellet yang sudah lama kerana kadar khasiatnya sudah menurun. Sepatutnya setiap peket pellet yang di jual perlulah mempunyai “Tarikh Mengilang” supaya pembeli tidak tertipu dengan membeli stok yang sudah lama dan hampir luput tarikh.
Pemberian pellet harus dikurangkan sesuai dengan peningkatan umur arnab-arnab anda dan lebihkan memberi makan hay ( rumput kering ).


Apakah kepentingan hay dalam diet arnab anda ?

Hay adalah penting untuk memastikan kesihatan arnab anda sentiasa dalam keadaan  yang baik, memberikan serat dalam diet arnab anda juga dapat mengurangkan bahaya hairballs dan masalah usus tersumbat  serta lain-lain masalah pencernaan. 

Berapakah kuantiti makanan yang perlu diberikan kepada arnab anda ?

Umur 1 hari  hingga 3 minggu - susu ibu
Umur 3 hingga 4 minggu  -  susu ibu, daun alfalfa dan pelet
Umur 4 hingga 7 minggu - susu ibu, alfalfa hay dan pelet
Umur 7 minggu ke 7 bulan – pellet  dan hay tanpa had.
Alfalfa Hay

Oat Hay


Berapakah kuantiti makanan yang perlu diberi kepada arnab muda berusia 7 bulan hingga 1 tahun ?

Mula memberikan lebih timothy, orchard grass/hay, Bermuda hay , oat dan kurangkan pemberian alfalfa
Kurangkan pemberian pellet kepada 100 grams bagi arnab yang mempunyai berat badan bawah 3 kg.


Berapakah kuantiti makanan yang perlu bagi arnab dewasa yang matang? (1 hingga 5 tahun)

Timothy hay tanpa had, rumput kering dan lain-lain rumput termasuk oat, Brome, Bermuda, dan lain-lain
100 gram – 120 gram pellet  sehari bagi arnab yang mempunyai berat badan bawah 3 kg.


Timothy Hay

Bermuda Grass

Orchard Grass

Apakah kuantiti makanan yang perlu ?

Jika berat badan yang mencukupi kekalkan diet :
100 gram pellet sehari bagi berat badan 2 kg – 3 kg
120 – 150 gram pellet sehari bagi berat badan 3 kg – 4.5 kg

 Semakin berat arnab anda, semakin ia memerlukan lebih pellet bagi mengimbangi berat badannya. Jika berat badan menyusut tau arnab mengalami kekurangan berat badan ( underweight ) pemberian alfalfa hay boleh membantu bagi meningkatkan berat badannya kerana kandungan protein pada alfalfa yang tinggi.
Alfalfa Hay


Jika kurang memberi pellet :

Apabila anda memberi arnab anda pellet dalam kuantiti yang kecil, anda perlu menggantikan nilai pemakanan tersebut dengan meningkatkan sayur-sayuran. Selain itu, pelbagai hay perlu diberikan sepanjang hari.

* ini hanyalah merupakan asas pemberian makanan kepada arnab penulis . Setiap breeder dan pemilik arnab mempunyai cara dan kaedah yang berbeza dalam mengawal diet arnab mereka.
*bagi mendapatkan bekalan hay pada harga yang berpatutan, boleh lah menghubungi RVdM di talian 012-7123559

*bidang ternakan merupakan bidang yang agak rumit. Hasil yang diperolehi dari satu pengusaha kesatu pengusaha yang lain adalah berbeza disebabkan beberapa faktor seperti persekitaran, pengalaman, pemakanan, penjagaan dan lain-lain faktor yang boleh mempengaruhi hasil. Adalah dinasihatkan supaya sebelum bermula peserta seharusnya mendapatkan khidmat nasihat dari agensi-agensi yang lebih pakar dan berpengalaman.




MAJULAH ARNAB UNTUK SEMUA

Khamis, 11 Julai 2013

HARGA EMAS MULA MENINGKAT

HARGA EMAS MULA MENINGKAT 

Gambarajah menunjukkan paras harga emas yang melepasi garisan "suppport" kesan dari sentimen pelabur yang panik terhadap kejatuhan emas di pasaran dunia

 Spekulator Emas ( aku la tu..hahah ) sudah mula memasuki pasaran.....
Tadaaaa....tu dia!! ...pelabur2 lain mula mengikut jejak apabila menyedari harga emas sudah mula meningkat....

Pelajari teknik melabur dan memasuki pasaran dengan betul & tepat dengan mendalami
Analisa Teknikal.....

Kelas Analisa Teknikal ini di buka setiap hari secara "personal coaching". Tertakluk kepada terma dan syarat.

Hubungi : 012-7123559  FB : RabbitVillage d'Muar

" Act Against The Crowd "

Selasa, 2 Julai 2013

DEMAM KUNING - ATASI MELALUI AMALAN SUNNAH

DEMAM KUNING - ATASI MELALUI AMALAN SUNNAH

Sekadar Hiasan



Perkongsian ilmu mengenai Jaundice oleh Ustaz Wan Asrul Al-Aydrus.

NEONATAL JAUNDICE
Apabila menyentuh tentang kelahiran baru, sering kali sang faqir dihubungi oleh ibubapa yang sedang berusaha menangani masalah Kuning atau Jaundice yang berlaku pada bayi mereka.

AlhamduLILLAH, setakat ini, 2 orang putera dan seorang puteri sang faqir, tiada seorang dari mereka yang di’hinggapi’ dengan masalah jaundice (kuning), doktor atau jururawat yang menguruskan isteri tersayang dan bayi lazimnya agak ‘Ajib, apakah pemakanan atau amalan ibu kepada tiga orang anak ini, sehingga tiada langsung tanda kuning. Satu jawapan mudah yang dapat diberi BACK TO SUNNAH.

Setakat ini sudah hampir 35 soalan di dalam inbox PM sang faqir bertanyakan cara merawat jaundice, malahan ada yang memberi pendapat di dalam ‘wall’, bahawa jaundice ini sudah menjadi wajib kepada bayi-bayi yang baru lahir sekarang, adalah bagi pandangan jahil sang faqir, pendapat ini tidak sang faqir setujui, kerana jaundice ini akan terkena pada 6 dari 10 orang bayi yang dilahirkan (neonatal jaundice), bermaksud pasti ada sebab kenapa yang 4 lagi tidak terkena.

Adalah perlu kita ketahui, dalam Perubatan Islam konsep Al Wiqayah Khairun Minal Ilaj (Mengelak lebih baik dari merawat) dipegang. Hal yang sama juga perlu pada permasalahan neonatal jaundice.

Jaundice adalah dari bahasa Perancis iaitu ‘jaune yang bermaksud kuning.

Ianya melibatkan permasalahan sel darah merah manusia yang terurai menghasilkan partikel atau komponen yang dipanggil bilirubin. Ianya tidak larut air dan akan dibawa atau dihantar ke hati(liver) untuk diubah menjadi larut air.

Setelah itu akan dikeluarkan melalui air kencing (menyebabkan air kencing berwarna kuning). Manakala sebahagiannya pula melalui najis melalui saluran hempedu (menyebabkan najis berwarna coklat kekuning-kuningan). Inilah Jaundice atau Kuning.

Ada dua sebab utama bayi terkena Jaundice, pertama kerana lemahnya sel darah merah bayi (fetal hemoglobin) dan keduanya disebabkan lemahnya sistem hati(liver) dek kerana belum cukup matang untuk menjalankan proses bilirubin tak larut air kepada bilirubin yang larut air.

Sebab-sebab lain selain dari yang di atas antaranya adalah kesan dari kelahiran menggunakan forceps (vakum), jangkitan kuman di dalam darah (sepsis), masalah ketidakserasian dengan darah ibu (Coombs Positive),Masalah enzim darah rendah (G6PD)- untuk permasalahan ini sehingga ke dewasa mereka yang menghidapinya tidak boleh memakan makanan yang terkandungnya purin yang tinggi, seterusnya hormon tiroid yang rendah, Masalah hati dan hempedu dan jangkitan virus rubella atau toxoplasma.

Serius atau tidak masalah ini, kelekaan atau kelalaian dalam merawat permasalahan ini, akan mendorong kepada fenomena kernicterus iaitu bilirubin yang tidak larut tadi menembusi lapisan otak bayi yang kurang matang, boleh menyebabkan kematian atau kecacatan kekal, NauzubILLAH.

Dalam kepercayaan sesetengah kaum, mengaitkan masalah kuning dengan tabiat ibu atau ayah yang suka memakai pakaian berwarna kuning atau memakan masakan yang berwarna kuning semasa bayi dalam kandungan, hal ini sebenarnya agak tidak relevan, tetapi masih boleh di’terima dengar’ berbanding kalau mengaitkan masalah kuning dengan mambang kuning, itu lebih haru.

Perawatan di hospital atau secara allopathy melibatkan Terapi lampu (phototherapy) danExchange Transfusion (ET) – Proses penggantian darah.

Cuma di sini sang faqir lebih suka berkongsi dengan sekalian sahabat kaedah dalam Perubatan Islam untuk mengelakkan dan merawat jika sudah terkena.

UNTUK MENGELAKKAN, IBU SEMASA MENGANDUNG DIGALAKKAN :

1) Menelan madu (tanpa air) 3sudu atau meminum air madu 5 sudu (Tiada masalah bagi mereka yang mengalami masalah kencing manis, malahan itu adalah terapi bagi masalah kencing manis)

2) Mengamalkan minum susu kambing 2 cawan sehari, pagi semasa sarapan, malam sebelum tidur. (Sebaiknya dicampur dengan sedikit zaafaran)

3) Mengamalkan meminum pati delima paling kurang 500ml sehari.

4) Banyakkan memakan kurma sebagai sarapan.

5) Mengamalkan memakan buah tin setiap 3 hari.

6) Menelan minyak zaitun apabila umur janin sudah mencapai 5 bulan ke atas.

7) Suami digalakkan menggosok lembut perut isteri yang sedang hamil sambil berselawat sebanyak mungkin.

* Buat pengetahuan semua, isteri tersayang dan anak-anak tidak pernah mengambil apa-apa suntikan pelalian vaksin, dari hamil sehingga sudah besar bayi tersebut. Kerana sang faqir percaya, vaksin yang terbaik adalah MADU LEBAH. (Biarlah orang hendak panggil kolot molot, asal kita tahu dan yaqin apa yang kita amal serta lakukan)

BAGI MEREKA YANG MENGALAMI MASALAH KUNING INI, ANTARA KAEDAH YANG BOLEH DILAKUKAN ADALAH :

1) Ibu perlu banyak memakan kurma dan menelan madu 1-3 sudu setiap pagi sepanjang tempoh menyusukan bayi, kerana susu ibu adalah yang terbaik untuk merawat masalah kuning, maka pastikan susu ibu tersebut terbaik keadaannya. Antara untuk memastikan jaminan kualiti susu ibu adalah kurma dan madu.

2) Titiskan 5-7 titis susu kambing ke dalam mulut bayi yang menghidapi masalah kuning tersebut.

3) Jika boleh, elakkan penjemuran kerana kulit bayi masih nipis dan kurang perlindungan, jika terpaksa jemur, maka dijemurkan pada waktu awal dhuha (jam 830pagi -930pagi) lebih dari waktu ini, kulit bayi sudah tidak dapat menerima kepanasan cahaya tersebut.

4) Bayi setiap pagi diberi hisapan madu dari jari ibu atau ayahnya. (Petua ini tidak tertakluk kepada masalah kuning sahaja, malahan kepada yang tidak punya masalah)

5) Buat urutan lembut di pelipis bayi (atas kening), dari pangkal mata dalam ke pangkal mata luar, sambil berselawat atau bertasbih, paling kurang 7x, setiap pagi. (untuk mengelakkan kuning naik ke kepala dan mengelakkan sawan)

Banyak lagi petua untuk ikhtiar menyelesaikan masalah kuning, cuma petua di atas sudah memadai dahulu. Diharap menjawab serba sedikit persoalan kalian.

Semoga ALLAH memudahkan urusan kalian.

InsyaALLAH Tohour.

Wassalam.


Dipetik dr FB  : Azasbabymate Mimijumi